Thursday, March 13, 2008
Belajar Bahasa Inggris yu!! Eh tapi.....

Belum lama ini teman-teman CFBE membahas mengenai pengajaran Bahasa Inggris di SD-SD di Indonesia. Nah ternyata, kemarin saya menemukan suatu keanehan di dalam Buku Bahasa Inggris seorang murid kelas 4 SD. Buku ini berjudul “Joyful Learning English for Elementary School, Book 4”, diterbitkan oleh Penerbit Pelita Ilmu, Bandung


Tampaknya yang membuat buku sama sekali tidak memahami Bahasa Inggris, dan ia membuat buku yang isinya tidak bermutu dan menyesatkan. Dari teks book yang seperti inilah murid-murid Indonesia belajar Bahasa Inggris. Jelas aja ke depannya bakal ngaco…



Di dalam bab terkhir, terdapat suatu wacana, beginilah isi wacananya:


This is my classroom. I study with my friends everyday. There are many things what we need to learn. A blackboard, a cupboard, a teacher table, and a teacher chair. That is a box and books on teacher table. The content of box are thirty piece of chalks and books are twenty. I have twenty four friends, thirteen girls and eleven boys. Each student in our class room has a table and chair. There are twenty five student table and twenty five student chair in our classroom.


Oke sekarang coba kita baca wacana di atas secara keseluruhan. Apakah wacana tersebut punya makna? Kalimat yang satu tidak berhubungan dengan kalimat yang lainnya.


Tolong koreksi bisla saya salah, setahu saya, seperti halnya dalam Bahasa Indonesia, dalam Bahasa Inggris kita mengenal istilah induksi atau deduksi ketika membuat suatu paragraf.


Misalnya, kalau menggunakan deduksi, kalimat

There are many things we need to learn .


Akan diikuti kalimat

We need to learn Mathematics, Literature, and Art.


Bukan oleh

A blackboard, a cupboard, a teacher table, and a teacher chair.



Agar lebih bermakna mungkin wacana di atas dapat dituliskan seperti ini:

This is my classroom. In this classroom, I study with my friends’ everyday. Here, we study English, Indonesian, Mathematics, and Art.



Selain itu, kumpulan kata-kata:

A blackboard, a cupboard, a teacher table, and a teacher chair.


bukanlah sebuah kalimat karena tidak ada subjek maupun predikatnya. Setahu saya, dalam bahasa Inggris, suatu kalimat setidaknya harus mengandung setidaknya sebuah subjek dan sebuah predikat.


Lebih tepatnya, kalimat tersebut ditulis sebagai

There is the teacher’s desk, a blackboard, and a cupboard in my classroom.


Kalimat :

That is a box and books on teacher table.

Strukturnya salah, seharusnya:
On the teacher’s desk, there is a box and some books


The content of box are thirty piece of chalks and books are twenty.

Seharusnya:

There are thirty pieces of chalks in the box, while there are twenty books on the desk.


I have twenty four friends, thirteen girls and eleven boys.

Seharusnya:

There are thirteen girl and eleven boy students in my class. Overall, there are twenty four students in my class.


Each student in our class room has a table and chair.

Karena pada awal cerita, si penulis menggunakan kata my, maka seharusnya dalam kalimat-kalimat berikutnya juga digunakan kata my bukan our, sehingga kalimat di atas seharusnya:

Each student in my classroom has a table and a chair.


There are twenty five student table and twenty five student chair in our classroom.

Seharusnya:

There are twenty four student tables and twenty four student chairs in my classroom.

 
wrote bymahkotalima at 12:27 PM | Permalink | 1 comments
Monday, December 24, 2007
Ternyata...
Di dekat tempat aku n teman2x ngajar (Sekolah Rumah Bu Dewi) ada pembuat kecapi dan biola! Yang kebetulan merupakam kakek dari muridku sendiri. Tadi aku melalui rumahnya dan melihat bapak tersebut memoles kecapinya.

Bapak tersebut juga memberiku kursus singkat sekitar 10 menit mengenai cara memainkan kecapinya. Kata penduduk sekitar, ternyata kadang2x ada orang yang datang ke si Bapak ini untuk belajar kecapi secara gratis.

Waktu muda, si bapak memasarkan kecapinya sendiri. Sayangnya, karena umur si bapak tidak muda lagi, ia mulai kena asma, dan tidak sanggup memasarkan kecapi dan biola buatannya. Oh ia, kalau ada yang tertarik
harga 1 biola Rp 100.000,- dan harga satu kecapi Rp 150.000,- loh!!!
Hehehehe promosi....
 
wrote bymahkotalima at 9:22 AM | Permalink | 2 comments
Friday, September 07, 2007
Artikel bagus
Klo baca2x milis pendidikan, selalu ada yang masih ribut tetang sertifikasi guru.
Mending baca ini dulu deh...

http://www.gse.harvard.edu/news_events/ed/2007/spring/features/upfront.html

:)
 
wrote bymahkotalima at 5:08 PM | Permalink | 0 comments
Monday, August 06, 2007
Sururon
Tulisan ini saya buat sekitar setahun yang lalu.. Belum terlalu selesai, tapi sudah cukup panjang. Hehehe

Tadinya tulisan ini untuk saya pribadi dan sempat saya kirimkan kepada Pak Satria Darma dari milis pendidikan dan CFBE.

Dan atas saran Pak Satria Darma, tulisan ini akan saya publikasikan.

Sekitar satu bulan yang lalu, saya mengadakan kunjungan
ke sebuah sekolah di daerah Garut, nama sekolahnya MTS Sururon
Setingkat SLTP). Kebetulan, saya beserta teman-teman dari Komunitas
Taboo, SD Mutiara Bunda, Bandung, dan Yayasan Bahtera mengadakan
pelatihan metoda belajar di sana. Teman-teman dari Taboo dan Yayasan
Bahtera memberikan pelatihan membuat peta, sedngkan teman-teman dari
Mutiara Bunda memberikan pelatihan membuat tanaman hidroponik.

Di perjalanan menuju MTS Sururon, mobil berhenti
sebentar, ada seorang guru ekonomi dari MTS Sururon yang mau nebeng
ikut sampai daerah atas ( sekolah ini tempatnya di perbukitan gitu).
Saya berkenalan dengan guru ekonomi ini, menarik sekali, dia seorang
perempuan yang masih mahasiswa di Universitas di Garut ( Kalau ga
salah tingkat dua ). Sehari-hari dia kuliah, mengajar sebaga guru
ekonomi di SLTP Sururon, dan kalau malam sering membina orang tua
murid, mengajarkan tentang berorganisasi, pentingnya pendidikan, dan
pelatihan-pelatihan lainnya.

MTS Sururon merupakan salah satu sekolah yang paling menarik yang pernah saya kunjungi. Tempatnya sedikit jauh dari kota,aga masuk ke dalam, di daerah yang berbukit-bukit. Beberapa ruangkelasya terletak di atas balongan. Meja-mejanya kecil, sehingga tidakperlu bangku lagi ( Bsia lesehan sambil nulis gethu dhee..).

Kesan pertama saat memasuki MTS Sururon adalah bahwa saya percaya pasti sekolah ini sekolah bagus. Kenapa saya bias bilang begitu? Di dinding kelas ditempel karya-karya murid, baik gambar,
puisi, cerita, dll. Banyak sekali sekolah di Indonesia ( bahkan sekolah-sekolah di kota pun), kalau ada karya-karya murid, cenderung terlihat seragam ( walau tidak persis seragam), baik gambar, puisi,ataupun ceritanya. Ketika saya melihat-lihat karya Sururon, saya melihat bahwa setiap karya punya karakter sendiri ( yang secara tidak langsung menggambarkan bahwa murid-murid MTS Sururon dibiarkan tumbuh
dengan karakternya masing-masing, What a good thing isn¡¦t it?)

Aku pun mulai ngobrol dengan murid-murid MTS Sururon. 3
orang anak perempuan mengajak saya dan teman saya guru bernama Ranny dari Mutiara Bunda berkeliling. Kami diajaka melihat ruabg-ruang
kelas, perpustakaan, dan juga asrama Putri. Setelah itu kami saling
bercerita, mula-mulanya membicarakan tentang kopi. Jadi, murid-murid Sururon menawarkan kami minum kopi, Ranny kebetulan dulu kuliahnya Biologi, langsung mengadakan diskusi kecil-kecilan mengapa kopi bias membuat seorang terjaga. Jadinya, timbulah diskusi kecil tentang IPA.
Abis itu obrolan menyambung kemana-mana, termasuk bagaimana cara
mereka belajar di sekolah. Dari obrolan, saya jadi tahu kalau MTS
Sururon dibuat oleh Paguyuban Petani setempat. MTS ini baru berdiri
sekitar tiga tahun. Kebetulan ada yang mewakafkan tanah untuk
dijadikan sekolah. Ada beberapa hal yang membuat saya kagum.
Murid-murid MTS Sururon, memiliki kebiasaan berdiskusi, ternyata
seminggu sekali ( kalau ga salah lagi.. setiap Jumat malam), orang tua murid (yang sebagian besar merupakan petani), dan beberapa wakil murid, dan guru-guru mengadakan acara kumpul-kumpul (silaturahmi). Saat silaturahmi ini kadang muncul ide-ide untuk memperbaiki sekolah, dan ide-ide lainnya. Misalnya nih, kelas 3 MTS ini punya waktu belajar tambahan sampai sore untuk persiapan ujian. Ternyata yang menentukan perlu atau tidaknya jam belajar tambahan, berapa waktu yang diperlukan untuk jam belajar tambahan, itu murid-murid sendiri, yang disampaikan waktu sedang ada acara silaturahmi. Kadang waku silaturahmi juga muncul ide-ide yang bersifat teknis, misalnya bahwa kelas gelap, sehingga perlu dibuat jendela, atau warnanya perlu dicat, kemudian dibuat pengaturan siapa
yang akan mengecat kelas, atau membuat jendela. Selain diskusi, di MTS Sururon juga ada pembagian tugas, misalnya ada beberapa murid yang wajib mengikuti diskusi setiap Jumat malam, ada beberapa yang tugasnya piket, dan bagi murid-murid yang tinggalnya di asrama ( karena rumahnya jauh), ada pembagian tugas masak dan sebagainy.
Pembagian tugas ini dilakukan dengan cara diskusi. Selain itu, kadang
kadang ada murid yang melakukan studi banding ke sekolah-sekolah
lain, atau kadang mewakili MTS Sururon, untuk suatu kegiatan, nah
sesampainya murid tersebut kembali ke Dururon, murid tersebut harus
membagikan cerita tentang perjalanannya ke teman-teman yang lainnya.

Setelah menyantap makan malam, saya akhirnya ikut
langsung merasakan yang dinamakan silaturahmu Jumat malam tersebut.
Kami, para fasilitator training yang dating dari Bandung, berkumpul
bersama warga Sururon, baik guru, murid, maupun orang tua murid. Kami
saling berkenalan dan membicarakan, acara yang akan kami
selenggarakan. Diskusi berjalan dengan santai ( ngobrol-ngobrol),
tapi bias dibilang serius juga. Baru sekali seumur hidup saya
merasakan yang selama ini saya dengar di PPKN. Musyaawarah yang
Indonesia banget.. Dari diskusi saya jadi tahu juga, bahwa kebanyakan
orang tua murid Sururon adalah Buruh Tani ( Merupakan petani tetapi
tidak memiliki keputusan sendiri). Beberapa waktu yang lalu, tanah
mereka sempat disengketaoleh sebuah pihak. Kejadian sengketa itu
membuat paenduduk sekitar tersebut sadar bahwa pendidikan adalah
sesuatu yang penting (agar tidak mudah dibohongi). Orang-orang yang
masih muda terutama, mempunyai peranan penting dalam pendirian MTS
Sururon, tentunya dengan dukungan penduduk setempat yang lain.

Saat diskusi, kami mendapat protes dari murid-murid elas
tiga. Tadinya pelatihan yang akan kami adakan itu ditujukan untuk
murid-murid kelas 1 dan 2. Akan tetapi, ternyata murid-murid kelas 3
sangat ingin ikut pelatihan. Mereka juga mengatakan kalu kalau kami
adalah orang pertama dari jauh ( di luar garut) yang mengunjungi
mereka dan mereka senang sekali. Akhirnya, hasil diskusi menyatakan
bahwa keals 3 boleh mengikuti kegiatan pelatihan yang akan diadakan
besoknya. Orangtua pun boleh ikut mengawasi kegiatan, dan untuk
pelatihan hidroponik, disarankan agar orang tua ikut belajar.
(Hidroponik hemat tempat, walaupun tidak ada lahan bisa tetap menanam
tanaman).

Malamnya pun saya dan teman-teman putri beristirhat di
asrama putri, sedangkan yang laki-laki beristirahat di ruang kelas.
Terlihat beberapa murid sedang belum tidur. Beberapa mengaji, beberapa belajar. Ketika ditanya, ¡§ belum tidur¡¨ , seorang
murid bercerita bahwa dia mau belajr untuk pesiapan ujian akhir. Katanya
baru sekali mau ikut ujian dari Negara sehingga rasanya deg-degan.
 
wrote bymahkotalima at 4:16 PM | Permalink | 1 comments
Thursday, July 05, 2007
lirik gak penting hehehe..
Pada dasarnya aku adalah pengemar teater musikal termasuk yang masuk tipe2x opera bahkan sampai musik yang modern.

Jadi pas temenku menyodorkan sebuah MP3. "Dengerin deh aneh" katanya.Aku sama sekali nga ngerasa ada yang aneh karena suka jenis musiknya.

"Aku emang suka jenis musik kayak gini"
"Tapi dengerin liriknya:

Dan akhirnya aku tertawa terbahak2x.
Judul lagunya
General
Pengarangnya Gilbert and Sullivan seseorang
yang suka bikin 'opera parodi'

Penasaran liriknya apa?
Klo ditulis disini kepanjangan euy..
Coba buka aja di http://en.wikipedia.org/wiki/Major_General's_Song

Labels:

 
wrote bymahkotalima at 5:38 PM | Permalink | 0 comments
Monday, July 02, 2007
Ujian Paket B (cerita hari pertama)

30 Juni 2007

Sabtu lalu, tepatnya tanggal 23 Juni 2007, saya tersenyum sendiri sambil menyusuri tembok bermural yang berada di Jalan Siliwangi, Bandung. Saya baru mendapatkan sms dari seorang anak SMP yang sering belajar Matematika bersama saya semenjak ia kelas 1 SMP. Isinya, “Kak, ini Anis, Alhamdulillah Anis udah lulus UN, Anis mau makasih sama bantuan Kakak selama ini.”

Sms singkat yang bisa menyejukan hati saya, tapi saya sama sekali tidak menduga apa yang akan terjadi beberapa hari kemudian tepatnya Selasa, 24 Juni 2007 yang lalu.

Pagi-pagi sekitar jam 8 pagi, 2 orang murid saya ( saya adalah guru Fisika di sebuah Madrasah) mendatangi tempat tinggal saya, mengabarkan bahwa 8 dari 10 murid saya tidak lulus Ujian Nasional. Alangkah kagetnya saya, dalam 4 tahun saya mengajar, baru kali ini ada murid saya yang dinyatakan tidak lulus.

Ternyata murid-murid saya baru mendapatkan kabar kegagalan ini sehari sebelumnya, 2 hari lebih telat dari yang seharusnya. Salah seorang rekan guru mendatangi rumah murid saya satu satu untuk menyampaikan kabar ini.

“Hari ini katanya kita disuruh ujian Paket B”, kata seorang murid saya,”anak-anak udah pada nunggu di rumah Pak X (ketua yayasan).”

Ternyata ujian akan berlangsung pada pukul 13.oo. Saya pun pergi ke rumah ketua Yayasan untuk bertemu anak-anak.

Di jalan menuju rumah Pak X. Murid saya bercerita bahwa di rumah ia dimarahi orang tuanya, “Bobogohan wae sih.. Makannya jadi bodo gak lulus sekolah”

“Padahal, Bu saya kan jadiannya juga baru setelah ujian, sebelumnya mah engga”

Sesampai dirumahPak X, saya pun mengumpulkan anak-anak, dan bercerita tentang apa yang saya baca di koran, dan kejadian-kejadian menganai UN tahun lalu. Saya bercerita bahwa tahun lalu ada murid yang mendapatkan PMDK di IPB ( dimana PMDK dilihat dari prestasi murid selama 3 tahun) dan ada juga yang mendapatkan beasiswa sekolah ke Australia, tapi ternyata dinyatakan tidak lulus UN. Say katakana bahwa saya tahu banyak kecurangan terjadi di UN, tapi yang melakukan kecurangan pun diluluskan.

“Ia Bu, kan kita kemarin UN nya nebeng di SMP … (sekolah lain), kita liat sendiri kalau guru-gurunya ngasih contekan ke murid-muridnya, kita mah asli jujur, gak dapet contekan, tapi malah nga lulus”

“Ia Bu tetangga pada bilang saya bodo, saya bodo, samapai nga lulus”

“Engga kok, kalian nga bodo, saya tahu persis kok. Harusnya yang curang-curang juga gak dilulusin yah”

Saya tidak bohong, murid saya mungkin tidak jenius. Tapi saya tahu persis mereka tidak bodoh. Ya, memang tidak semuanya pandai secara akademik. Memang ada yang sediit tersendat-sendat di pelajaran matematika, misalnya. Tapi saya tahu persis bahwa ketika mereka mengajukan pertanyaan di kelas, pertanyaannya cukup cerdas, saya tahu bahwa mereka memiliki rasa ingin tahu yang cukup tinggi. Waktu saya menontonkan film tentang luar angkasa dan otak kepada mereka, mereka mengajukan berbagai macam pertanyaan. Bahkan mereka sibuk bercerita kepada temannya yang tidak bisa ikut menonton, dan temannya tersebut minggu depannya mengajak saya menontonkan film tersebut lagi. Saya beberapa kali meminjamkan mereka ensiklopedia, dan ternyata mereka benar-benar membaca ensiklopedia tersebut, dan mengajukan pertanyaan bila ada bagian yang tidak mereka mengerti. Ketika mereka saya ajak mengunjungi PLTA di Bandung ( Bareng Bandung Heritage) pun mereka bertanya macam-macam, termasuk mengenai lingkungan.

Saya juga pernah mengajak mereka untuk membuat kompor dengan energi matahari, dan tanpa sepengetahuan saya mereka mencoba-coba sendiri kemampuan kompor matahari tersebut (saat saya tidak masuk).

Saya tahu persis bahwa kegagalan UN yang terjadi dengan mereka engga worthed.

“Ibu, saya udah daftar mau sekolah lagi di otomotif. Gimana mau sekolah lagi sekarang aja gak lulus.”

Saya berkata bahwa hal tersebut bisa diperjuangkan, padahal, di dalam hati saya sangat sedih juga, saya teringat bahwa tahun-tahun sebelumnya hanya sedikit sekali murid saya yang melanjutkan ke tingkat SMU. Misalnya tahun sebelumnya hanya sekitar 5 dari 16 anak yang melanjutkan sekolah. Yang lain tidak melanjutkankarena biaya, sisanya menikah atau bekerja. Kalau dulu murid-murid saya biasanya bingung untuk sekolah lagi karena tidak ada biaya, sekarang selain harus memikirkan biaya, mereka pun berpikiran tidak mungkin melanjutkan sekolah lagi karena dinyatakan tidak lulus.”

Salah satu hal miris lainnya yang saya dengar hari itu adalah, “ Ibu, da baru dikasih tahu ujiannya kemaren, saya teh bingung, gimana cari ongkosnya buat ketempat ujian. Kan ngedadak gitu. Bolak-balik kan sekitar 10ribu.”

Sekitar jam 10, saya dank ke-8 murid-murid saya pun berangkat menuju SMU8, Buah Batu, Bandung, tempat dimana diselenggarakan ujian paket B. Saya berjanji bertemu dengan teman saya, Nuri, guru Biologi. Kebetulan dulu SMU 8 adalah sekolah Nuri dulu.

Kami sampai disana sekitar jam 10.45, ternyata anak-anak belum makan, apa-apa dari rumah, kebteluan teman saya yang guru Biologi punya rezeki sehingga kami semua mendapatkan traktiran mie darinya. Saya pun mengingatkan anak-anak agar keesokan harinya membawa bekal untuk makan, dan sebaiknya makan pagi dulu.

Oia. Perlu saya ceritakan bahwa penyelenggaraan ujian paket B ini kacau sekali. Kata orang dari Dinas Pendidikan, pesertanya ada sekitar 1500 orang. Dan tempat ujiannya nga Cuma di SMU 8. Dan ternyata nomor ruangan tidak tertulis di kartu ujian, sehingga anak-anak harus mendatangi kelasnya satu persatu untuk mencari ruang kelasnya, dan mencari apa nomor ujian mereka ada di kelas tersebut. (Keesokannya saya baca di koran bahwa nomor ruang ujian diberitahukan kepada kepala sekolah, jadi salah sendiri kalau kepala sekolah tidak mengumumkan hal tersebut kepada muridnya. Bagaimanapun, seharusnya kalau ada ujian, nomor ruang ujiannya tertulis di kartu ujian, tidak bisa melalui pemberitahuan lisan saja.

Di SMU 8 tersebut banyak sekali siswa setingkat SMP, bahkan ada yang dari satu sekolah bisa mencapai lebih dari 20an anak.

”Banyak juga yah bu,”kata seorang murid saya,”Saya pikir cuma sekolah kita aja yang pada ngak lulus”

Hari pertama anak-anak ujian matematika dan Pancasila. Gagal di Ujian Nasional yang hanya terdiri dari 3 pelajaran (Matematika, Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia), anak-anak harus ujian paket yang terdiri dari 6 mata pelajaran.

Selasa : Pancasila-Matematika

Rabu : Bahasa Indonesia – IPS

Kamis : Bahasa Inggris – IPA

Sambil menunggu anak-anak ujian, saya dan teman saya (guru Biologi) pun berjalan-jalan, rencananya untuk menanyakan informasi mengenai kapan hasil ujian, dan menanyakan di mana/nomor kontak information center dari Diknas, bila ada pertanyanyaan.

Saya pun mendatangi salah satu panitia yang berada SMU 8. Ketika kami ditanya kami dari mana, kami menjawab dari Mts Al-Huda.

Di sana, kami melihat seorang ibu yang sedang curhat (dengan nada sedikit marah-marah) kepada panitia, kurang lebih intinya anaknya habis operasi amandel, dan tiba-tiba ada guru lewat (sepertinya guru sekolah anaknya) lalu ia pun memeluk guru tersebut dan menangis.

Lalu kami pun bertanya, kapan pengumuman hasil ujian, nomor kontak di Dinas Pendidikan yang bisa ditanya-tanya untuk tahu informasi yang diperlukan itu berapa dan siapa kontak personnya.

Sayang sekali, perlakuan yang kami dapatkan dari panitia sangat tidak ramah, “Siapa sih tanya-tanya? Wartawan yah? Pasti bukan wartawan Galamedia! Kalau wartawan gala media, saya kenal! Kalau wartawan ke sana aja ke SMK3! Gak ada tempat buat wartawan di sini, wartawan udah dialihin ke sana semua!”

Alhasil, saya dan teman saya pun tidak mendapat jawaban yang kami inginkan. Kami pun memilih untuk pergi ke SMK3, siapa tahu dapat informasi di sana.

Kami pun mendatangi meja panitia. “Pak hasil ujiannya kira-kira kapan yah?” tanya kami.

“Wah, persisnya gak tahu juga, Cuma kalau dari pengalaman tahun lalu paling cepat sebulan, bisa juga 1 ½ bulan, kalau masyarakat banyak yang nuntut bisa aja lebih cepat.”

“Wah lama juga yah, padahal pendaftaran masuk SMU bentar lagi. Jadi pastinya belum tahu yah?”

“Belum tahu, ini juga kan kita cuma pelaksana, kalau hasilnya tergantung dari pusat. Kalau di sini informasi suka cepat berubah-ubah. Tergantung dari pusat.”

“Kalau pusat informasi yang bisa ditanya-tanyain siapa yah? Atau nomor telepon yang bisa ditanyain untuk informasi?”

”Oh datang aja ke Dinas Pendidikan, Jalan Ahmad Yani, bagian PLS, kalau nga ada juga, Tanya aja ke Pusat, ke Jakarta.”

Berhubung kami masih ingin mengetahui informasi yang lebih jelas, akhirnya kami menyelonong masuk ke rombongan wartawan, yang sedang mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada pak Wawan, seorang dari dinas pendidikan.”

“Pak apakah nga mendadak nih ujian Paket B-nya, padahal kan hasil UN, baru diumumkan sekitar 3 hari yang lalu?” Tanya seorang wartawan.

“Tapi kan anak-anak sudah mendapatkan proses pembelajaran selama 3 tahun di sekolah, jadi seharusnya ngak menjadi masalah.” Jawab Pak Wawan.

Saya pun menyelipkan sebuah pertanyaan, di sela-sela pertanyaan wartawan, “Pak ada gak nomor kontak yang bisa dihubungi orang tua bila ingin bertany-tanya mengenai informasi dari Paket B”

Akhirnya saya pun mendapatkan sebuah nomor telepon seseorang dari dinas pendidikan Jawa barat, yang katanya bisa ditanyai informasi.

Tak terasa ternyata waktu sudah menunjukan pukul 3 sore. Anak-anak pun telah selesai ujian Pancasila, dan bisa beristirahat samapi pukul ½ empat.

Saya dan teman saya pun menghampiri anak-anak, dan ikut mendengarkan celotehan mereka

“Bu, ujian Pancasilanya lebih gampang daripada ujian sekolah” kata anak-anak.

“50 nomor ujiannya”

“Bu ujian Pancasilanya kok lebih lama daripada matematikanya? Pancasila mah 2 jam, matematika sekitar satu ½ jam.”

"Bu, nanti ijazahnya paket B yah? Udah susah-susah belajar di sekolah 3 tahun, ijazahnya paket B aja ya?"

“Besok ujian IPS, itu geografi, sejarah, ekonomi. Da buku Geografi di sekolah Cuma 3 itu juga dipegang sama anak cowo semua”


Pernyataan yang cukup miris lainnya. Ya, diantara-anak-anak tak satu pun yang memiliki buku teks pelajaran apapun. Kadang-kadang anak-anak meminjam buku pelajaran dari sekolah. Kalau untuk pelajaran Fisika dan Biologi, biasanya saya dan Nuri suka membuatkan ringkasan di kertas A-4 sehingga bisa difotokopi dan dibagikan satu-satu ke anak-anak. Kalau ada ujian atau sejenisnya, paling anak-anak belajar dari catatan seadanya.

Tak lama setelah anak-anak sekolah ashar, bel pun berbunyi. Anak-anak harus mulai ujian matematika.

Saya dan Nuri pun menyusun strategi untuk keesokan harinya. Misalnya meminta anak-anak menuliskan nama, alamat, dan sekolah (setingkat SMU) yang akan dituju. Kami memerlukan alamat anak-anak katerna tak satu pun di antara murid Al-Huda yang punya nomor telepon, sehingga nanti kalau ada yang perlu diinformasikan sesuatu kami harus mendatangi rumahnya satu-satu.

Sambil menunggu, saya dan Nuri pun mengobrol ngalor ngidul di samping ruang kelas tempat anak-anak ujian. Kami juga sempat ngobrol dengan seorang ibu dari Cileunyi yang sedang mengantarkan anaknya ikut ujian. Dia bercerita bahwa anaknya menangis selama 2 hari saat tahu tidak lulus UN, dan sebagai ibu pun ia turut menangis rasanya. Ia juga bercerita bahwa ia baru tahu ujian Paket B-nya sehari sebelumnya, sehingga kami pun tahu bahwa ternyata kabar yang mendadak tidak hanya terjadi di sekolah kami melainkan di sekolah lain juga. Dari hari sabtu hingga senin ia terus mencari informasi ke sekolah anaknya mengenai ujian paket B, tapi baru menddapat kabar hari Senin, tepat sehari sebelum ujian paket B.

Akhirnya ujian pun selesai sekitar pukul 17.oo. Saya, Nuri dan anak-anak pun telah bersiap untuk pulang. Anak-anak tampak sedikit lebih tenang dibandingkan ketika pagi hari. Tapi mereka tentu lelas sekali. Saya sarankan mereka untuk segera tidur setelah pulang, agar tak lelah keesokannya.

Ketika menuju gerbang SMU 8 untuk pulang, kami bertemu dengan mantan gurunya Nuri, Bapak Guru ini sempat berceloteh,”Gagal 3 ujian semua. Kalau kemarin yang kasian yang paket C. Itu tuh yang asalnya dari sekolah kejuruan, kayak STM, SMEA, dan macem-macem waktu ujian paket C bingung karena mesti ujian tata negara juga, sosiologi juga, dan banyak lagi, padahal dulu selama sekolah belum pernah belajar.”

Begitu banyak cerita yang didapatkan dalam sehari, tunggu kelanjutan untuk cerita hari kedua dan ketiga.

 
wrote bymahkotalima at 3:18 PM | Permalink | 1 comments
Monday, June 25, 2007
Pertemuan Taman Bacaan
Kemaren seru banget deh

Jadi ceritanya ada sejumlah taman bacaan taman bacaan kecil yang berkumpul di Komunitas Taboo. Ide awalnya sangat sederhana. " Sharing" Yakni mempertemukan pengelola taman bacaan yang satu dengan yang lain untuk sharing pengalaman. Meskipun sederhana. Tetep seru abis loh!!

Jadi ceritanya ada sekitar enam taman bacaan di daerah Jawa Barat yang dateng ditambah teman2x dari Perpustakaan Amalthea, Pustakalana, Kalyamandira, Reading lights, teman-teman dari pesat, dan Taboo juga.

Acara pertama icebreaking. Games gethulah...
Abis itu masing-masing taman bacaan diminta untuk menggambarkan taman bacaan mereka di sebuah kertas buram besar.

Abis itu cerita deh tentang taman bacaan mereka masing-masing. Bukunya ada berapa, tempatnya kayak apa, yang suka dateng umur berapa aja, jam buka, masalahnya di tempat masing-masing apa.

Sharing2x n saling ngasih masukan gethu deh..

Beberapa taman bacaan ini mulai dengan buku yang gak bisa dibilang banyak. ada yang mulai hanya dengan 30 buku loh. Ruang yang dipake pun macem2x. Ada yang nebeng di sekolahan ( di desa Mekarwangi), ada yang make ruang tamunya seorang ibu, dan ada juga yang make halaman, jadi kalo malem, buku2x ditaruh dikamar anaknya, tapi kalo siang ampe sore, bukunya dikeluarin dan ditaruh di halaman sebuah meja di halaman rumah. Anak-anak bisa baca di mana aja, di dalem rumah, di halaman, di bawah pohon, terserah. Pokonya sederhan2x banget tapi semangatnya teman2x itu loh dalam menyediakan bacaan buat sekitarnya. Top abies..

Selain itu juga da cerita mengenai masalahnya masing2x, misalnya kemampuan membaca masyarakat sekitar, trus buku yang terbatas sehingga perpus menjadi lebih sepi karena anak-anak yang dateng udah baca nyaris semua, bingung ide kegiatan, dan macem2x lagi.

Masing2x komunitas pun ngasih saran satu sama lain. Misalnya ide kegiatan lain seperti membacakan cerita, menggambar, mengajak anak jalan2x ke lingkungan sekitar, dan banyak lagi.

Setelah sesi sharing ini ada break. makan2x, minum, n shalat gethu deh..

Abis itu ada games lagi. Semacam games untuk mengenal teman2x yang datang lebih dekat lagi..

Abis itu, temanku Jodi memberi contoh cara mendongeng dengan bantuan whiteboard , dan spidol. sambil cerita, dia ngebikin gambar2x yang belum diselesaikan. Trus meminta si peserta buat nebak kira2x dia mau gambar apa. Abis itu ceritanya dilanjutin lagi sambil diselesaiin gambarnya. Tiap tokoh yang digambar pun diberi nama. peserta yang diminta memberi nama. Trus abis itu diterusin deh ceritanya.

Abis itu perserta dibagi menjadi kelompok2x yang terdiri dari masing2x dua orang dan 1 fasilitator. Dan tiap kelompok diminta merancang ide baru untuk taman bacaannya kelak.

Ada yang punya ide ngajakin anak2x bikin gambar trus nanti gambarnya dipajang di tali jemuran, trus ngajak anak bikin tempat sampah, ada yang bikin contoh dekorasi pake origami yang rencananya bisa jadi hiasan buat taman bacaannya, ada yang punya ide ngedongeng menggunakan gambar yang dibuat dari kertas yang diwarnain dan lain2x.

Well, abis itu acar selesai deh. Tiap peserta dikasih kado, klo gak salah dari reading lights, ama 1001 buku berupa peralatan semacam lem, gunting, krayon, kertas lipet, n karton, n juga satu plastik buku cerita.

Abis itu foto2x n pulang deh...

Seru.. seru!!

PS : Postingan sejenis dalam bahasa inggris bisa dilihat di http://abc-mahkotalima.blogspot.com/
 
wrote bymahkotalima at 12:01 PM | Permalink | 1 comments