Sunday, November 22, 2009
Bertemu Tibetian Monks


Beberapa hari yang lalu saya mengunjungi perpustakaan pusat Bristol. Menurut teman saya ada beberapa Tibetian Monks dari Tashi Lumpo Monestry yang sedang membuat lukisan dengan pasir. Saya sangat tertarik ingin mengetahui teknik pembuatan lukisannya. Pasir berwarna diletakkan ke dalam sebuah corong logam lalu di samping corong ada bagian bergerigi. Bagian ini digesek-gesekan dengan sebuah alat, sehingga pasir keluar secara perlahan. Wow mengerjakan lukisan tersebut benar-benar membutuhkan kesabaran.

Para Tibetian Monks dari Tashi Lumpo Monestery ini juga berjualan berbagai barang seperti gelang, kartu pos, hiasan dinding, karena mereka sedang mengumpulkan dana untuk pembebasan Panchen Lama yang bernama Gedhun Choekyi Niyam, salah satu tahanan politik paling muda di dunia.

Saat saya sedang melihat-lihat barabf-barang yang dijual oleh para monks, saya terpana pada sebuah hiasan dinding berwarna jingga. Tulisannya begini:

THE PARADOX OF OUR AGE

We have bigger houses but smaller families;
more convinience, but less time;
we have more degrees, but less sense;
more knowledge, but less judgement'
more experts, but more problems;
more medicines, but less healthiness;
We've been all the way to the moon and back,
but have trouble crossing the street to meet the new neighbour.
We built more computers to hold more
information to produce more copies than ever, but have less communication;
We have become long on quantity,
but short on quality.
These are times of fast foods
but slow digestion;
Tall man but short character;
Steep profits but shallow relationships;
It's a time when there is much in the window, but nothing in the room

... His Holiness the 14th Dalai Lama


Entah kenapa kata-kata ini begitu mengena bagi saya, mungkin juga koreksi terhadap diri sendiri. Saya meminta izin kepada sang biksu yang menjaga barang-barang dagangan untuk memotrer tulisan ini lalu mengobrol sedikit tentang Pancen Lama yang sedang dipenjara. Akhirnya saya berjalan pulang.
 
wrote bymahkotalima at 9:31 PM | Permalink | 3 comments
Saturday, November 14, 2009
Guru-guru yang istimewa: Mereka yang memiliki kekuatan dari dalam
Seorang rekan guru, yang juga seorang trainer baru kembali dari sebuah daerah yang pernah (atau masih?) mengalami konflik di Indonesia. Di sana ia meminta para guru-guru menceritakan pengalaman pertama mereka mengajar. Dan ini adalah salah satu kisah mengenai seorang guru yang punya kisah luar biasa. (Saya akan gunakan nama samaran untuk menggantikan nama aslinya)

Tiba giliran seorang ibu guru bernama Ibu ABC. Beliau ternyata telah mengajar lebih dari 25 tahun! Wah, hebaaattt...Ibu ABC bercerita bahwa ketika beliau mulai mengajar adalah di suatu desa (saya lupa namanya) yang menjadi awal peperangan Pihak X dengan Pihak Y. Beliau bercerita, ketika itu baik X maupun pasukan Y tidak pandang bulu. Mereka menyerang, masuk ke sekolah2 ketika anak2 sedang belajar, bahkan ada yang menghadapi ujian seperti sekolah ABC saat itu. Dengan berapi-api Ibu ABC menceritakan bagaimana ia melawan X yang masuk dengan paksa dan berusaha menyelamatkan anak2 dengan membawa mereka keluar dari sekolah mengungsi ke gunung-gunung. Dengan berani, Ibu ABC membawa murid2nya pergi dengan "labi-labi" semacam angkutan umum, seperti angkot di daerah Bogor. Menurut ABC, labi2 ketika itu penuh dengan orang bersenjata.

Satu hal yang saya salut dari Ibu ABC adalah, kebesaran jiwanya yang berusaha menyelamatkan murid2nya dengan berani. Sewaktu saya menanyakan kepada beliau bagaimana perasaan beliau ketika itu, beliau menjawab seperti ini, "Entah mengapa, tidak ada rasa segan, takut, atau ciut hati ketika saya menghadapi orang2 bersenjata itu yang masuk ke kelas saya. Yang ada di kepala saya adalah bagaimana saya harus menyelamatkan murid2 dari orang2 kejam yang tak kenal welas asih. Mereka menyiksa salah satu guru kami di depan anak2 karena guru kami itu dicurigai sebagai orang dari pihak Y. Satu hal yang ada di kepala saya, anak2 harus pergi dari situ. Saat itu tidak ada rasa takut sedikit pun. Namun, satu minggu setelah kami pergi mengungsi, saya menjadi trauma akan peristiwa itu..."


Rekan saya begitu kagum dengan cerita yang disampaikan Ibu ABC, begitu pula saya. Tapi kisah di atas mengingatkan saya atas sesuatu yang telah begitu lama saya percaya.

Saya selama ini sangat percaya bahwa kita tidak bisa mengajarkan orang lain mengenai sesuatu yang "bukan diri kita". Maksudnya, saya selama ini percaya bahwa hanya guru yang berani yang bisa mengajarkan murid-muridnya mengenai keberanian. Hanya guru yang berjiwa besar yang bisa mengajarkan murid-muridnya mengenai berjiwa besar, Hanya guru yang sederhana yang bisa mengajarkan murid-muridnya tentang kesederhanaan. Hanya guru-guru yang pantang menyerah yang bisa mengajarkan murid-muridnya mengenai kegigihan. Hanya guru yang berkarakterlah yang bisa mendidik murid-murid menjadi berkarakter.

Seorang sahabat saya sempat curhat, "Saya ingin agar murid-murid saya bisa hidup sederhana, bisa menabung, tidak boros, tapi kemarin seorang muridku memergokiku sedang makan di sebuah restoran fast food padahal saya mengajarinya membawa bekal ke sekolah. Saya malu sekali."

Sahabat saya kini sedang berusaha sekali agar ia bisa menjadi pribadi yang ia impikan, pribadi yang sederhana dan tidak boros. Ia berkata padaku bahwa ia tidak ingin mengajarkan sesuatu yang ia sediri tidak lakukan. "Ngak ngaruh kalau ngak. Ngak kena soul-nya," begitu katanya.

Dua orang sahabat saya yang lainnya memiliki ibu seorang guru. Tapi, guru di zaman dulu. Meski sekarang masih banyak guru yang penghidupannya di bawah layak, kini sudah ada beberapa guru yang memiliki penghasilan yang cukup besar, sehingga mereka tidak perlu bekerja lagi untuk menghidupi keluarga. Mereka bisa fokus di pengembangan diri, membaca, meningkatkan pengetahuan dan banyak lagi.

Kedua orang sahabatku yang ini memiliki kisah yang cukup mirip. Ibu mereka, selain harus mengajar menjadi guru, juga harus mengerjakan pekerjaan lainnya seperti berladang, sehingga bisa menghidupi keluarga.

"Ibuku sekarang jadi kepala sekolah, dan sekolah tempat ibuku mengajar sekarang mendapatkan dana yang cukup untuk gaji guru, dan juga mendapatkan dana BOS. Ibuku menggunakan dana tersebut untuk membeli buku, dan langanan koran di sekolah. Katanya memang harus dari dulu begitu, gaji guru harus mencukupi sehingga bisa untuk pengembangan diri. Dulu ibuku mana sempat. Harus kerja selain mengajar. Juga memasak dan mengurus keluarga."

Sahabatku yang lain, memiliki ibu yang setiap hari setelah pulang mengajar harus bekerja di sawah dan juga mengurus keluarga. Beras didapatkan dari pekerjaannya bertani, sehingga ia memiliki cukup uang untuk membiayai kelima putra-putrinya sekolah hingga tinggi. Ibunya juga berpendapat sama, bahwa memang sehrausnya guru memiliki penghasilan yang memadai agar memiliki kesempatan untuk mengembangkan diri.

Saya sungguh setuju, bahwa guru memang harus diperhatikan kesejahteraannya. Tetapi berdasarkan cerita kedua sahabat saya, saya tahu bahwa ibu mereka masing-masing merupakan guru yang luar biasa. Mereka memiliki kualitas yang mungkin tidak (atau belum) saya atau guru-guru muda lainnya miliki. Mereka bertahun-tahun berjuang menghadapi hidup dengan kerja keras. Tanpa perlu bicara, mereka bisa mengajarkan muird-muridnya mengenai kerja keras. Mereka bertahun-tahun hidup dengan kondisi ekonomi yang sulit, harus hidup sederhana tapi tidak pernah menyerah. Tanpa kata mereka pasti bisa menjadi inspirasi bagi murid-muridnya mengenai bertahan dalam kondisi sulit, kesederhanaan, dan sifat pantang menyerah. Semuanya karena kerja keras, kesederhanaan, dan sifat pantang menyerah merupakan bagian menyeluruh dari kepribadian mereka. Kepribadian guru-guru yang istimewa.
 
wrote bymahkotalima at 5:38 AM | Permalink | 0 comments
Friday, November 13, 2009
Guru: Meninggalkan kesan yang mendalam meski dengan cara yang sederhana
It was Miss Emily herself who taught us about the different counties of England. She'd pin up a big map over the blackboard, and next to it, set up an easel. And if she was talking about, say, Oxfordshire, she'd place on the easel a large calender with photos of the county. She had quite a collection of these picture calenders, and we got through most of the counties this way. She'd tap a spot on the map with her pointer, turn to the easel and reveal another picture. There'd be little villages with streams going through them, white monuments on hillsides, old churches beside fields; if she was telling us about a coastal place, there'd be beaches crouded with people, cliffs with seagulls. I suppose she wanted us to have a grasp of what was out there surrounding us, and it's amazing, even now, after all these miles I've covered as a carer, the extent to which my idea of the various counties is still set by these pictures Miss Emily put uo on her easel. I's be driving through Derbyshire, say and catch myself looking for a particular village green with a mock-Tudor pub and a war memorial - and realise it's the image Miss Emily showed us the first time I ever heard of Derbyshire.


(Never Let Me Go , hal 64-65, Kazuo Ishiguro)

Beberapa waktu yang lalu saya membaca sebuah novel dan saya menemukan potongan di atas. Potongan di atas menggambarkan bagaimana seorang guru, dengan melakukan sesuatu hal yang sederhana, bisa meninggalkan bekas yang mendalam bagi muridnya. Berdasarkan kutipan di atas, saat sang guru mengajarkan mengenai peta Inggris (kebetulan setting bukunya di Inggris), ia akan menempelkan sebuah gambar yang berhubungan dengan daerah yang diperbincangkan. Kadang gambar diambil dari sebuah kalender. Ini hanya hal yang sangat sederhana, bisa dilakukan oleh guru manapun dan kita tak kan pernah tahu, hal-hal yang sederhana kadang bisa meninggalkan bekas yang mendalam.

Saya jadi ingin bercerita mengenai suatu hal sederhana yang pernah dilakukan oleh seorang guru saya (tepatnya dosen saya), sewaktu saya masih berkuliah di teknik mesin ITB. Hal sederhana yang ia lakukan meninggalkan bekas yang cukup mendalam di hati saya.

Saat itu saya sering menghabiskan waktu di laboratorium surya. Dosen saya, Pak Halim, kebetulan penghuni lab Surya, jadi saya sering bertemu dengannya. Suatu hari saya menyapanya di kantornya. Permisi Pak. Ia membalas, " halo Puti". Lalu mata saya menuju pada sebuah alat yang terletak di atas mejanya. Bentuknya seberti silinder yang memiliki jaring. Lalu saya bertanya, "Itu apa Pak?" Lalu ia menjawab, "Oh ini, ayo masuk, sini saya terangkan."

Saya memasuki ruang kantornya, lalu ia menerangkan pada saya bahwa alat tersebut merupakan alat yang bisa diletakan di atas kompor untuk menghemat gas. Ia menerangkan bahwa dengan menaruh alat tersebut di atas kompor. Aliran panas lebih teratur, sehingga mengurangi jumlah panas yang terbuang. Alat tersebut bisa digunakan untuk menghemat energi. Kami kemudian memperbincangkan mengenai cara kerja kulkas supermarket (yang tidak memiliki pintu layaknya kulkas di dalam rumah). Ia kemudian bercerita bagaimana ia pernah mengumpulkan air yang dihasilkan oleh bagian belakang Air Conditioner (AC), yang terjadi akibat proses kondensasi, sehingga airnya cukup bersih. Kami juga memperbincangkan cara kerja berbagai jenis cofee maker dan banyak hal lainnya, semuanya mengenai perpindahan panas dan konversi energi.

Ia juga mengajari saya untuk mengetik "do it yourself"+"solar water heater" di google untuk menunjukkan bagaimana mudahnya membuat sebuah solar water heater.

Perbincangan saya dengan Pak Halim berlangsung selama 1 setengah jam, mungkin lebih. Tapi yang paling utama adalah bagaimana Pak Halim bersedia meluangkan waktunya untuk menjawab keingintahuan saya. Pada akhirnya, kini, saya memilih untuk tidak bekerja sebagai seorang engineer, tidak seperti teman-teman saya. Tetapi perbincangan di hari itu memberikan kesan yang sangat mendalam di hati saya, sehingga sampai kini, saya masih bercita-cita membuat sebuah solar water heater sendiri untuk rumah saya. Cita-cita ini tak pernah hilang, layaknya kesan yang Pak Halim tinggalkan pada saya hari itu. Suatu hari di laboratorium surya.
 
wrote bymahkotalima at 2:02 AM | Permalink | 2 comments
Friday, September 18, 2009
Pertama kali
Petama kali merasa
Perasaan yang tidak pernah dirasakan sebelumnya

Tanpa ambisi
Tenang, tenang sekali

Bismillah
 
wrote bymahkotalima at 8:46 PM | Permalink | 1 comments
Wednesday, August 12, 2009
sharing tulisan yang berkesan
Saya hari ini membaca buku yang bagus sekali (menurut saya), judulnya Voices in a Seashell: Education Culture and Identity

Ada satu potongan yang sangat berkesan di hati saya, menyangkut pentingnya identitas kultural yang mengingatkan saya akan salah satu falsafah pendidikan di INS Kayu Tanam, Sumatra Barat : Jadilah engkau jadi engkau. Sekolah mengasah kecerdasan akal budi murid, bukan membentuk manusia lain. (http://iti-ins.com/moduls.php?op=sis_article&category_id=255&article_id=96))

Saya ingin berbagi potongan tulisan yang berkesan bagi saya. Tulisan ini dibuat oleh Sir Geffrey A. Henry, Perdana Menteri Cook Island. Semoga bermanfaat. :)
---

Education is in fact, just one component of the culture of the community. That education should be "for culture" is like saying a fish's tail is "for the fish", the horse's hoof is for the horse. Surely each serves a purpose.

.... I assure you that we are not suggesting that our schools abandon western education in favor of returning it to ancient ways. What we seek, istead is balance. Let me explain why. Culture is identity and identity is pride. When I was sent away to New Zealand for schooling I found myself an alien in a foreign land. I was strange to some of my school mates and can remember being called a "heathen" and a "canibal" and, for a time treated less than equal.

Some Cook Islands students, in the same circumstances, became despondent, failed and returned home. I knew who I was. I admired my parents, remembered my grandparents and knew with pride of the greatness of my ancestors. They all gave me the courage to stay. I did, and today when I travel and meet leaders elsewhere or when they come here, it is always on an even basis. Even the barest smattering of my own culture has endowed me with stregths that I needed then, that I still need.

Even so I feel culturally deprived. Because I was away in western schools, I missed crucial years with my father who was a man steeped in traditional values. He raised sixteen children and all of them survived because he knew what to plant and when to plant, when to fish and where to fish. He timed his activitied with the phases of the moon and made judgements on wind and tide. He never purchased fertilisers but used local rubbish and nartural materials for organic farming of a kind that is just being discovered by developed countries. It didn't seem so important to me when i was a twelve-years-old lad but now I yearn for the traditional knowledge that he could have passed on and feel poverty-stricken without.

I yearn for it and so do others. Since we are aware of our loss, we owe it to our children to gain what we did not. I do not mean that we should cling to the glories of the past. No. Every generation, every nation, must look for new glories. But what is the best way to achieve tese? The answer, learned in the University of Life, is in balance. Thus, I do not propose that we should return to our cultural past to stay there, but to learn and to discover ourselves in order that we may better meet the challenges of today and tomorrow.

Sedikit pembahasan saya setelah membaca potongan ini:

Bagi saya potongan ini indah sekali. Konsep balance atau kesetimbangan merupakan salah satu konsep favorit saya, baik saat belajar fisika, maupun dalam setiap aspek kehidupan. Tak bisa dipungkiri, banyak sekali ilmu-ilmu sekolahan, termasuk yang saya pelajari yang berasal dari barat. Saya pun tidak anti dengan hal ini. Ilmu bisa dipelajari dari mana saja. Tapi saya sangat menggelisahkan (semoga tidak sampai kejadian yah), anak-anak yang mulai tercerabut dari akar budayanya sendiri, budaya Indonesia. Geffry, sang penulis, dalam konteksnya di Cook Island menyatakan ketika ia belajar ilmu-ilmu barat di New Zealand, ia sebenarnya kehilangan salah satu kesempatan belajar yang cangat berharga. Ilmu dari ayahnya, tentang bertanam, mencari ikan, membuat pupuk sendiri, menentukan waktu bertanam (dan mencari ikan) dari fase bulan, dan pengambilan keputusan berdasarkan tinggi rendahnya ombak. Geffry menyadari betapa bernilainya pengetahuan yang dimiliki ayahnya, pengetahuan lokal. Bahkan ia menyebutkan mengenai pembuatan pupuk organik, dari sampah, yang sudah dilakukan oleh orang-orang di Cook Island selama bertahun-tahun baru muali dikembangkan oleh negara maju. Saya pun, mungkin termasuk salah satu orang yang tidak sempat belajar mengenai kekayaan berbagai pengetahuan lokal yang dimiliki oleh leluhur bangsa Indonesia. Tapi saya menaruh penghargaan yang sangat tinggi terhadap pengetahuan-pengetahuan ini. Setiap kali ada kesempatan, dengan senang hati saya akan belajar. Geffry juga menekankan bahwa ia tidak anti terhadap ilmu-ilmu dari luar, hanya saja, ketika balance ini tidak ada (tentu saja kini kita banyak didominasi oleh budaya-budaya di luar kita) kita akan kehilangan akar, kehilangan sesuatu yang sangat penting, kita akan asing terhadap budaya sendiri.

Hal lain yang yang ditekankan Geffry dalam tulisan ini adalah mengenai pentingnya mengenal diri sendiri. Ini mirip dengan sebuah quote dalam film Persepolis (2007), yang sangat berkesan bagi saya "Never forget who you are and where you're from". Sewaktu Geffry belajar ke Zealand dan banyak yang mengejeknya. Di zaman ia sekolah (mungkin sampai sekarang), orang-orang yang berbeda seringkali didiskriminasi dan diperlakukan secara tidak adil. Hanya saja, karena Geffry sangat bangga dengan asal usulnya, dengan orang tuanya, kakeknya, neneknya, dan luluhurnya di Cook Island celaan tidak menjadi masalah. Ia mengenali keunggulan budayanya. Saat orang lain mengatakan hal buruk tentang asal-usulnya, ia lebih tahu mengenai budayanya sendiri lebih dari siapapun sehingga tak ada yang bisa mengoyahkannya untuk jatuh. Ia bertahan untuk belajar dalam tekanan karena ia mengenai siapa dirinya. Poin-poin mengenai balance, kearifan lokal, termasuk di dalamnya pengetahuan lokal, dan pentingnya mengenal diri sendiri, sungguh membuat tulisan ini istimewa bagi saya. Bagaimana dengan anda?

Sumber: Voices in a Seashell: Education Culture and Identity
Ed. Bob Teasdale and Jennie Teasdale, UNESCO, 1992
 
wrote bymahkotalima at 10:36 PM | Permalink | 0 comments
Sunday, May 31, 2009
Kontroversi
Saya salut pada semua teman-teman yang terlibat film cin(T)a, karena berani mengangkat sebuah isu yang kontroversial.

Menurut Samaria, itulah beruntungnya percaya pada yang Maha Kuasa. "There is nothing to loose." Kalau memang jalan terbaik, ya segalanya akan dimudahkan, kalau bukan, ya ya sudah artinya it is not meant to be.

Menonton film cin(T)a saya merasa menjadi lebih kuat dan lebih berani. Selama ini tak banyak yang tahu bahwa sejak tahun 2007 saya diliputi kegelisahan akut karena selama 2007-2008 saya mengadvokasi korban UN. Dan saya melihat ketidakadilan yang begitu sulit saya ungkapkan terkadang. Bahkan ketika bercerita dengan sahabat-sahabat terdekat saya hanya bisa menangis, sehingga kadang mereka tak tahu cerita selengkapnya. Yang tahu bagaimana perasaan saya terutama hanya Mbak Anug, dan Angga yang benar-benar ikut proses advokasi bersama saya. Dan juga Pak Dan, teman konsultasi saya sepanjang tahun. Kami marah, nangis begantian, dengan perasaan tercabik-cabik.

Saya tahu, bahwa saya harus menuliskan apa yang saya lalui. Pengalaman tahun 2007-2008 adalah pengalaman yang sangat unik, dan tidak semua orang merasakannya. Saya juga tahu bahwa pengalaman itu bisa membantu menyuarakan perasaan dan pemikiran banyak orang yang mungkin tak punya kekuatan untuk bersuara. Tapi jujur, kadang saya diliputi rasa takut. Saya takut karena tahu apa yang saya tuliskan sangat kontroversial. Proses melawan ketakutan ini berlangsung cukup lama, saya sempat curhat dengan Mbak Arleen, seorang penulis buku anak, yang menyemangati saya untuk tetap menulis. Dia katakan pada saya, kalau kamu sampai segelisah ini, artinya hal (tulisan) ini memang penting untukmu.

Tadinya bahkan sampai beberapa bulan lalu saya belum berani untuk mengunkapkan pada orang banyak bahwa saya akan menulis buku ini. Saya hanya bercerita pada orang-orang terdekat. Perlahan-lahan saya mengumpulkan kebranian untuk menulis, untuk pasrah, untuk berani untuk menhasilkan sebuah karya, meskipun karya tersebut mungkin akan penuh kontroversi. Doakan saya yah! :)
 
wrote bymahkotalima at 4:52 AM | Permalink | 0 comments
cin(T)a
Saya baru menonton premiere cin(T)a di London. Film ini masih belum diputar di Indonesia, karena masih dalam proses sensorship, maklum isunya cukup sensitif, tentang hubungan beda agama, ras, suku, dan juga kelas.

Kamis malam saya tiba di London, teman saya tempat saya biasa menebeng sedang di luar kota sehingga saya memutuskan untuk menginap di wisma merdeka, tempat menginapnya guru rajut saya, sekaligus penghuni DU65 tempat saya biasa nebeng dulu selama di Bandung, Mbak Danti. Saya sampai London jam 11 malam, belum booking tempat di wisma, saya berharap-harap saya diizinkan masuk.

Ya nomor 44! Ini rumahnya, saya ketuk-ketuk dan saya kaget. Pintu dibukakan oleh wajah yang saya kenal melalui trailer film cin(T)a, sang pemeran utama Sunny Soon. "Mau mencari siapa ya?" katanya dengan suara halus. "Ingin menanyakan ada tempat untuk menginap tidak malam ini di sini." Jawab saya. Untuk pengelola wisma, berbaik hati mengizinkan saya tinggal di sana, asal penghuni yang lainnya tidak keberatan, untungnya penghuni wisma adalah teman-teman saya sendiri, Mbak Danti, Atun, dan seorang teman main saya waktu saya masih kecil, Tantri. Yipiee.. Hehehe.

Well, anyhow, saat saya sampai saya sempat ngobrol-ngobrol dengan Atun, untuk menanyakan Sali, dalam film ini berperan sebagai apa. Saya ingat, Sali sempat mengemail saya untuk menanyakan kenalan yang bersedia menyeponsorinya untuk datang. Saya menyarankan Sali untuk menghubungi IA-ITB yang menurut Mbak Danti, tidak berhasil. Wah sayang sekali. Atun berkata Sali adalah script writer bersama dengan Samaria (yang saya kenal kemudian karena kami juga sekamar di wisma merdeka). Dan jujur perasaan saya bangga sekali. Sali, bagi saya ada perempuan yang sangat istimewa. Dia dulu teman saya selama di komunitas Taboo. Kami sama-sama mengajar anak-anak Taboo. Dia juga merupakan teman perjalanan saya sewaktu mengunjungi Pak Bahruddin, di 'SMP Alternatif Qaryah Thayibbah', Salatiga. Kami menghabiskan 3 hari berpuasa di sana sambil mengagumi kompor Pak Bahruddin yang terbuat dari Biogas. Di Salatiga saat itu Sali pun tak berhenti bekerja, sampai malam ia tetap mengetik script untuk sebuah stasiun TV swasta. Saya ingat Sali meminta saya mendengarkan kumpulan lagu favoritnya di mp-3 nya, segala jenis musik ada dari instrumental, keras, pop, dan sebagainya. "Banyak orang heran dengan selera musikku, kok kayaknya jenis musik satu ngak nyambung dengan yang lainnya, padahal antar satu musik dengan musik lainnya ada benang merahnya." Saya juga teringat ketika Sali membahas tentang hukum makan kodok dalam Islam, ia mencari tahu hadisnya dari berbagai sumber. Ia membaca banyak sumber, lalu menyimpulkan apa yang dianggapnya paling benar.

Selama nonton film cin(T)a saya tidak bisa berhenti untuk tidak mengenang Sali. Saya sangat menyuka hubungan antara Cina dan Anisa di film itu, saya menyukai bagaimana mereka tersenyum satu sama lain, perasaan yang naik dan turun, perbedaan karakter antara Cina dan Anisa. Manis sekali, bagi saya. Dan saya tidak bisa berhenti untuk mengingat Sali. Sali adalah perempuan yang sangat unik, dan cinta antara Cina dan Anisa pun sangat unik, bukan yang beromantis candle light dinner,kirim-kirim bunga, tapi lebih pada rasa, dan juga pikiran. Lalu ada naik dan turun, emosi yang tertahan, dan terlepaskan. Mencoba berkompromi baik pada pasangan maupun kondisi, walau tak selalu mudah. Manis sekali. dan saya tidak bisa berhenti bertanya, apa Sali juga pernah merasakan hal yang sama, sehingga ia bisa menggambarkan cinta yang sebegitu manisnya?

Adegan terakhir, mengenai sang perempuan yang memilih untuk menikah dengan jodohnya (dijodohkan ibunya), digambarkan dengan mandi kembang (adat Jawa) lalu ada tanda tanya (Amin?) bagi saya juga istimewa. Saya tidak bisa untuk tidak ingat bahwa Sali, meskipun dia perempuan yang sangat modern (menurut saya), merupakan perempuan Jawa. Kenyataannya ada orang-orang yang memilih untuk dijodohkan (atau hal-hal yang dalam budaya barat terlihat aneh, istilahnya kok yah manut aja?), mungkin dipengaruhi budaya. Memang ada budaya-budaya yang tidak selalu menganggap individu merupakan hal yang paling istimewa. Pengabdian pada orang tua, misalnya merupakan hal yang dianggap suci, atau menuruti apa yang diyakini (tidak kawin beda agama), karena benar-benar yakin, sehingga rela mengorbankan cinta pun hal yang wajar juga, meskipun ada yang sebaliknya. Saya sendiri misalnya, meskipun seorang yang bisa dikatakan dididik dalam keluarga yang cukup modern, tetap percaya bahwa restu orang tua adalah hal yang sangat penting dalam melangkah ke langkah selanjutnya (misalnya menikah). Dan itu menariknya film ini. Film ini tidak menyatakan mana yang paling benar dan mana yang paling salah. Toh ada beberapa potongan hasil wawancara yang menggambarkan orang-orang yang memilih beda agama (meski dalam film ini tokoh utama tidak melakukannya). Dan saya memang paling menyukai model-model film semacam ini. Sebuah film yang hanya bercerita tanpa mendoktrinasi apa yang benar dan apa yang salah. Hanya cerita tentang kegelisahan, apa yang dilihat, apa yang dipikirkan, dan apa yang dirasa. Saya ingat saat diskusi, Samaria, script writter satu lagi bercerita, bahwa adegan ketika Anisa (muslim) merasa sedih ditahun 2000, saat mendengar gereja-gereja di bom, didasarkan pada apa yang di rasakan Sali. Sali, seorang muslim, tapi ia memiliki keluarga yang berbeda agama. Ketika kejadian gereja dibom saat natal. Sali merasa berat sekali, karena jadi cangung kan berhubungan dengan keluarga yang berbeda agama? Ia merasa ia berada di komunitas yang ikut membom orang-orang di gereja. Saat ada umat muslim yang melakukan terorisme, umat-umat muslim lain turut terkena dampaknya, dicap buruk, dicap jahat, padahal banyak juga muslim yang tidak seperti itu, yang bisa hidup damai dengan umat manusia lainnya. (ah tuh kan saya ingat Sali lagi!)

Saya sangat suka film-film yang bukan untuk menjustifikasi benar salah. Apa yang benar atau salah penonton yang menentukan, setelah refleksi. Penonton yang harus dewasa dalam mengambil sikap saat menonton film-film semacam ini. I just love it! Menonton film ini mengingatkan saya pada beberapa film yakni The Class/Entre Les Murs (setting Prancis), Persepolis(setting Iran), dan sebuah film Jepang yang judulnya nobody knows. Kekuatan film-film ini adalah bahwa film-film ini apa adanya, endingnya mungkin tak seindah film-film hollywood, alurnya tidak heroik, hanya cerita, deskripsi secara visual, yang memungkinkan penonton untuk berefleksi terhadap fenomena di sekitarnya, mengingat-ingat, bagian-bagian dalam hidup penonton yang berhubungan dengan film, tertawa atas kegetiran emosi yang dirasa. Film yang membiarkan penonton untuk subjektif dalam menilai apa yang dianggapnya benar atau salah. The ending is not the point, but what we feel during the film is what matters the most. I just love it!
 
wrote bymahkotalima at 3:02 AM | Permalink | 0 comments
Thursday, May 28, 2009
Sharing film tentang bullying
Sheito Shokun (bisa dilihat di: http://www.mysoju.com/seito-shokun/) merupakan sebuah drama Jepang mengenai bullying. Walau film ini merupakan sebuah drama, what can be called as 'not so real', sebenarnya banyak hal dalam film ini yang merupakan isu-isu yang penting dalam pendidikan.

Film ini awalnya sangat buram, menggambarkan siswa-siswa yang tidak percaya pada guru. Warna film ini begitu gelap, bercerita tentang remaja-remaja yang marah, kejam, dingin, dan juga nakal.

Naoko, seorang guru lulusan universitas kependidikan, baru pertama kali mengajar di sana. Yang menarik adalah bagaimana Naoko dengan penuh kesadaran begitu mencintai profesi keguruan. Ia dianggap berasal dari sebuah universitas yang biasa saja saat ingin mendaftar. Saat ditawari untuk mengikuti kuliah lagi 'demi memungkinkan kenaikan pangkat' (bukan untuk belajar loh), agar kelak ia bisa jadi pejabat di sebuah kementrian pendidikan ia mengatakan, "Saya mau menjadi guru dan memang tidak berharap untuk naik pangkat (di kementrian pendidikan). Ia memang ingin menjadi guru."

Anak-anak dalam cerita ini melakukan bullying, kekerasan, dan begitu banyak hal lainnya. Tapi saat seorang siswa melakukan kekerasan, ia biasanya pernah mengalami kekerasan sebelumnya, atau mungkin ia marah akan hal-hal lain. Ternyata anak-anak yang begitu marah ini pernah dikecewakan sebelumnya oleh orang dewasa, guru mereka sendiri. Saat kelas mereka pergi bertamasya, sang guru pernah meninggalkan mereka sendiri di tengah hutan, dan mengambil makanan dan minuman mereka. Murid-murid tersebut kelaparan selama 2 hari. Sayangnya waktu, mereka menceritakan pengalaman mereka kepada orang tua dan guru mereka, anak-anak ini tidak didengarkan. Yang lebih dipercaya adalah cerita 'versi sang guru', bahwa anak-anak tersebut 'tidak mendengarkan perintah guru' sehingga mereka tersesat. Bagi pihak sekolah yang penting adalah 'image sekolah tidak rusak'. Apa jadinya saat ada berita bahwa sekolah memiliki guru yang tidak bertangung jawab dan membiarkan murid-murid mereka mati kelaparan dan kedinginan di tengah hutan? Belum lagi guru (yang tidak bertangung jawab) ini ternyata adalah putra menteri pendidikan, sehingga image menjadi hal yang jauh lebih penting lagi.

Siswa-siswa begitu kecewa pada orang yang mereka percaya, mereka jujur tapi tidak ada yang percaya. Terutama orang dewasa. Ah bagaimana mereka bisa percaya pada orang dewasa? Kemarahan mereka yang tak didengar mengakibatkan mereka mulai melakukan kekerasan.

Naoko, sang guru yang cantik, mencoba mengenal murid-muridnya. Walau murid-muridnya penuh kemarahan, ia mencoba mendekati murid-muridnya secara personal, mengenali masalah-masalah mereka satu persatu.

Saya sangat suka bagian saat sang guru membela seorang anak yang hampir dikeluarkan dari sekolah. Anak tersebut disarankan untuk sekolah di "free school" yang peraturannya tidak seketat di sekolah formal.

Sang guru mengerti bahwa model pendidikan apapun sah-sah saja, "saya tidak masalah dengan konsep free school, tapi dalam konteks ini saya ingin tetap mempertahankan sang murid di sekolah ini."

Yang Naoko tidak setuju, bukan konsep "free school-nya". Free school hanya sebuah bentuk lain pendidikan, dan boleh-boleh saja. Yang sang guru tidak suka adalah "sifat lipstik" pihak sekolah, bahwa pihak sekolah ingin berpura-pura memindahkan sang murid ke free school tersebut dengan alasan itu adalah jalan terbaik, padahal alasan sebenarnya adalah pihak sekolah ingin menjaga image sekolah yang hampir rusak karena anak tersebut begitu sering bolos (dan hampir diungkap media). "Kepura-puraan dalam pendidikan" adalah salah satu isu yang diangkat dalam film ini yang menurut saya sangat penting, mengingatkan saya akan begitu banyak hal yang sifatnya 'pura-pura'' di sistem pendidikan Indonesia sendiri (ah saya tidak akan membahas detailnya kali ini, cuma kalau ada yang mau berkomentar silakan).

Kembali ke film Shito Shokun, salah satu hal yang menarik dalam film ini adalah bahwa film ini menggambarkan bahwa yang merasa paling tersakiti paling akan menyakiti orang lain. Sang pemimpin kelompok bullying di sekolah ini adalah seorang perempuan. Diantara semua teman-temannya ia yang paling penuh kemarahan. Bahkan ketika semua teman-temannya sudah mulai 'memilih untu tridak melakukan kekerasan lagi', termasuk mengerjai sang guru, perempuan ini masih penuh kemarahan dengan orang dewasa. Ternyata, sang perempuan ini sejak lama sudah mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Ia juga memiliki keluarga yang tidak bahagia. Ibunya terkena penyakit, sehingga tidak ingat bahwa sang perempuan ini merupakan anaknya. Tantenya yang membiayai pendidikan si perempuan dan biaya berobat ibu si perempuan, memiliki seorang anak laki-laki yang lebih tua usianya, sepupu sang perempuan. Ternyata sepupu ini melakukan kekerasan seksual pada perempuan ini. Perempuan ini tak punya tempat mengadu, tidak bisa kabur, dan iya begitu marah.

Naoko, tak menyerah, bahkan dengan muridnya yang tersulit sekalipun. Setelah mengenal murid perempuannya ini, ia berusaha agar murid perempuan ini terselamatkan. Ia berusaha berbicara dengan tante sang murid, dan bahkan sempat 'menampar sang tante' saat ia begitu marah, karena tante ini tidak mau membela sang perempuan (yang menjadi korban kekerasan). Naoko, rela menangung resiko dari perbuatannya. Ia diberhentikan sebagai guru. Yang menarik adalah saat dia berkata pada murid-muridnya, bahwa dia dikeluarkan memang karena kesalahannya sendiri. Ia melakukan kekerasan (menampar), dan bagaimanapun kekerasan adalah hal yang salah.

Film ini menarik, karena mengangkat isu-isu mengenai pentingnya 'berorientasi pada nilai' seperti kejujuran, rasa saling percaya, keadilan, persahabatan, bertangung jawab atas perbuatan yang dipilih (berani mengambil resiko). Film ini juga penting untuk para pengajar untuk belajar bahwa setiap hal pasti disebabkan oleh hal lain. Kalau ada murid kita yang nakal, kenali dulu latar belakangnya, mungkin ada alasan dibalik kenakalannya. Kalau ada murid kita yang melakukan kekerasan, cari tahu dulu dari mana asal usulnya. Walaupun film ini film drama, film ini pantas ditonton oleh siapa saja, terutama oleh para guru, praktisi, dan pengamat dalam pendidikan. Selamat menikmati!
 
wrote bymahkotalima at 6:33 AM | Permalink | 0 comments