Membaca "Steve Jobs" (Bagian 1)  
Oleh Dhitta Puti Sarasvati

Saya tidak pernah berencana membaca buku Steve Jobs karya Walter Isaacson. Walaupun saya terpukau pada pidato Steve Jobs di Stanford ( http://news.stanford.edu/news/2005/june15/jobs-061505.html ), saya bukan fans-nya. Biasa saja.  Jadi, buku "Steve Jobs" tidak masuk dalam buku yang akan saya baca, setidaknya dalam waktu dekat. Saya sedang berencana membaca (banyak) buku-buku bertema pendidikan dan juga novel.

Waktu Mas Eko Prasetyo, seorang anggota milis Ikatan Guru Indonesia (IGI) mengusulkan mengadakan Klub Baca IGI dan mengusulkan membaca Biografi "Steve Jobs" saya terima saja tantangannya. Kenapa tidak? Mungkin awalnya saya tidak berminat, tetapi bisa saja saya tetap mendapatkan sesuatu dari membacanya. Ternyata saya memang mendapatkan sesuatu.

Sebelum menceritakan bagian pertama yang berkesan di hati saya, saya akan menceritakan sesuatu mengenai kegelisahan saya.  
Kegelisahan saya salah satunya dipicu oleh cerita Ibu Nina Feyruzi, salah seorang anggota mailing-list IGI. Ibu Nina pernah menceritakan tentang kunjungan siswa-siswa sekolah San Pablo (Argentina ke Indonesia). Beginilah tulisannya : 

"Siswa San Pablo, sekolah ini merupakan sekolah swasta yang mengkhususkan diri untuk mencetak siswa yang berminat di bidang sejarah dan seni dunia. Walaupun mereka mempelajari matematika, mereka lebih memfokuskan diri pada bidang pelajaran yang lain, seperti sejarah seni, sejarah dunia, drama, literatur, puisi, hingga humanisme dan filsafat. Ketika kedua belas siswa Argentina tersebut presentasi tentang sekolahnya, mereka memberikan contoh berpuisi. Seorang siswa bernama Mateo lalu membacakan puisi tentang alam dalam bahasa Spanyol dan teman2nya mengadakan mini discussion dan menginterpretasikan puisi yang dibuat Mateo. Wooooowwwww....

Saya sendiri terpukau melihat ini. Namun, anehnya, siswa SMA 8 yang terkenal pintar-pintar itu tidak tertarik sedikit pun. Mereka memberikan applaus sih, tapi tidak deep kalau menurut saya. Seorang guru SMA 8 mengatakan, "Ya jelas lah. Anak-anak 8 kan anak-anak science, mana tertarik mereka dengan puisi!" Owh, owh, owh...

Lalu, siswa San Pablo juga melakukan mini drama, satu babak yang diambil dari cuplikan "Hamlet". Dan tentu saja siswa-siswa Indonesia tidak ada yang tahu apa itu Hamlet. Lalu, Willy, siswa lainnya kemudian menjelaskan bagaimana "The Man of Java" - Pithecan Tropus Erectus, manusia purba yang ditemukan tulang belulangnya di Sangiran melakukan perjalannya berpindah-pindah. Dia menggambarkannya dengan peta yang dibuatnya. Wooowwwwww.... Sampai sebegitunya dan tentu saja saya dibuat terbengong-bengong juga. Saya tahu bahwa manusia Homo sapiens hidup berpindah-pindah. Tapi saya tidak tahu kemana mereka pergi dan apakah ada hubungannya dengan penyebaran manusia lainnya di benua lainnya." (Nina Feyruzi, mailing-list IGI, 2012)

Terus terang, cerita Bu Nina membuat saya berpikir cukup lama. Saya heran, seorang guru berkata  "Ya jelas lah. Anak-anak 8 kan anak-anak science, mana tertarik mereka dengan puisi!"

Kok bisa seorang guru berkata seperti itu? Kalaupun anak-anak tidak tertarik dengan puisi, bukankah tugas guru untuk membuat anak bisa setidaknya mengapresiasi puisi. Bukankah tugas guru untuk membantu siswa memperluas wawasan dan membimbing anak untuk melihat dunia yang lebih luas daripada sebuah ruang kelas?

Bersekolah adalah suatu kesempatan untuk menjadi lebih terpelajar, untuk menjadi lebih terdidik. Bagi saya menjadi terpelajar berarti berani juga belajar hal di luar bidang yang kita geluti. Kalai kita fokus untuk belajar IPA misalnya, kita juga harus belajar menghargai bidang lain baik. Tidak ada salahnya belajar sastra, puisi, dan lain-lain. Kalaupun tidak tertarik, setidaknya bisa belajar untuk mengapresiasi karya. 

Saya jadi teringat Dosen Kinematika & Dinamika Mesin saya Pak Djoko Soeharto. Dia sering membagikan fotokopian dari buku-buku atau majalah yang menurutnya menarik meskipun itu tidak selalu berhubungan dengan pelajaran yang diajarkannya. Dia membagikan fotokopian dari buku Multiple Intellegence karya Howard Gardner, membagikan artikel tentang perkembangan sekolah-sekolah desain di dunia, dan lain-lain. Dia senantiasa mengingatkan saya dan murid-murid yang lain untuk memperluas wawasan dan pengetahuan. Belajar apa saja. Dia selalu berpesan kita setidaknya harus  seperti huruf T (kapital). Ada dua garis di huruf T. Yang satu horizontal dan yang satu vertikal. Vertikal berarti kita harus mempunyai ilmu yang dalam dan horizontal berarti kita harus mempunyai wawasan yang luas. Artinya apapun jurusan yang diambil oleh siswa, baik IPA oleh IPS, memang sebaiknya juga belajar  berbagai ilmu lain, meskipun mungkin tidak mendalam.

Pernyataan guru "Ya jelas lah. Anak-anak 8 kan anak-anak science, mana tertarik mereka dengan puisi!" berarti bahwa dia mengasumsikan bahwa siswa yang tertarik pada IPA dan Matematika pasti tidak tertarik pada bidang lain.  Apa benar begitu?   Padahal ada juga anak yang sebenarnya ketertarikannya beririsan dengan bidang lain. Saya jadi ingat bahwa Lewis Carol, salah satu sastrawan terkemuka dunia yang mengarang Alice in Wonderland merupakan seorang matematikawan. Karya-karya Lewis Carol dalam bidang sastra tidak pernah lepas dari bidang matematika. Tan Malaka, salah satu founding fathers di Indonesia juga seorang Matematikawan meskipun dia juga mendalami ilmu politik, sosial , dan seterusnya. Di zaman sekarang, salah satu ilmuwan Indonesia yang saya kagumi, Mas Yanuar Nugroho,  bidangnya juga beririsan antara IPA & IPS. Detailnya bisa dilihat di http://bukik.com/2011/09/11/bukik-bertanya-yanuarnugroho-peneliti-pelangi/ . 

Steve Jobs sendiri tampaknya merupakan salah satu orang yang masuk dalam kategori yang minatnya beririsan antara IPA & IPS. Dalam bagian pendahuluan buku Biografi Steve Jobs tertulis pernyataan Steve :

"I always thought myself as a humanities person as a kid, but I liked electronics," he said. "Than  read something that one of my heroes, Edwin Land Polaroid, said about the importance of people who could stand at the  intersection of humanities and sciences, and I decided that's what I wanted to do." (p. xix)

"Waktu saya kecil, saya selalu mengira  saya seorang yang suka ilmu-ilmu kemanusiaan  , tapi saya menyukai elektronika", kata [Steve Jobs]. "Kemudian saya membaca sesuatu tentang sesuatu yang dikatakan oleh pahlawanku Edwin Land Polaroid, di sana dikatakan pentingnya orang-orang yang bisa berdiri di irisan antara ilmu-ilmu kemanusiaan dan ilmu pengetahuan alam."

Steve Jobs ternyata merupakan salah satu orang yang mempunyai minat yang luas. Dia punya ketertarikan pada bidang elektronika, teknologi, tetapi juga pada bidang lain. Di bab satu, juga diceritakan bahwa saat SMU Steve Jobs mulai mendalami elektronika sekaligus juga  banyak mempelajari sastra. 

"I started to listen to music a whole lot, I started to read more outside of just science and technology - Shakespeare, Plato. I loved King Lear." (p.19)
Saya mulai sering mendengarkan musik, saya mulai membaca banyak di luar sains dan teknologi - Shakespear, Plato. Saya jatuh  hati pada King Lear. (p.19)

Bagi saya, dua kutipan di atas mengingatkan saya sebagai guru untuk senantiasa belajar dan menginspirasi siswa-siswa saya untuk belajar. Belajar apa saja, meskipun mungkin itu di luar bidang yang kita geluti sekarang. 


Bisa untuk pelajaran IPA nih.. :)



Bagaimana kita bisa mengukur hasil pemelajaran siswa? : Berbagai Bentuk Assessment
OLEH  EDUTOPIA STAFF
(Diterjemahkan oleh Dhitta Puti Sarasvati dari  http://www.edutopia.org/comprehensive-assessment-introduction  )

Ada lebih dari satu cara untuk mengukur kemampuan siswa
Assessment adalah jantung dari pendidikan : Guru dan orang tua menggunakan nilai ujian untuk menentukan kelebihan dan kekurangan akademik siswa, berbagai komunitas tergantung dari nilai-nilai ini untuk menilai kualitas dari sistem edukasi mereka, dan pembuat kebijakan menggunakan pengukuran yang sama untuk menentukan apakah sekolah-sekolah publik telah memenuhi standar yang ditetapkan.


VIDEO : Assessment Overview : Beyond Standardized Testinghttp://www.youtube.com/watch?v=bImoHlQ-r-0
Ujian membentuk fondasi untuk assessment pendidikan dan merepresentasikan komitmen kepada standar akademis yang tinggi serta akuntabilitas sekolah. Anda tidak bisa tahu kemana Anda menuju kalau Anda tidak tahu di mana Anda berada. Akan tetapi, jika pertaruhan secara finansial dan prestise dihubungkan dengan standardized tests yang tidak sebanding tingginya, tujuan mulia ini akan menyimpang. Guru mulai mengajar untuk ujian (teaching to the test) hanya untuk meningkatkan nilai, biasanya dengan cara mengabaikan kegiatan-kegiatan pembelajaran yang bermakna. Dan ketika ujian terlalu menguji pemahaman secara sempit atau tidak sesuai standar yang ingin dicapai, ujian-ujian ini sebenarnya hanya memberikan informasi (konkrit) yang terlalu sedikit yang bisa digunakan oleh guru dan sekolah untuk meningkatkan proses mengajar dan belajar setiap siswa. 

Assessment Abad ke-21

Tuntutan dunia masa kini menuntut siswa untuk mempelajari berbagai keterampilan. Sistem ekonomi yang berbasis pada pengetahuan dan teknologi tingkat tinggi menuntut siswa untuk menguasai kemampuan berpikir tingkat tinggi (higher-order thinking skills) dan mereka juga harus mampu berpikir secara relasional, di mana mereka bisa mengaitkan konsep satu dan konsep berbeda lainnya.
 
Kemampuan-kemampuan ini –-mengingat (recall) , menganalisis, membandingkan (comparison), melakukan pertimbangan secara logis ( inference), dan mengevaluasi-– akan menjadi keterampilan seorang warga abad ke-21 yang literate. Dan keterampilan-keterampilan ini tidak terukur dengan ujian high-stakes yang sekarang. 

Sebagai tambahan, keterampilan seperti kerja sama, kolaborasi, dan pembangunan karakter moral -- yang tidak diukur dalam standardized test biasanya -– sangat penting. Pekerjaan selalu mencari pegawai yang bisa berhubungan baik dengan orang lain dan bisa bekerja sama dengan sesama rekannya. 

Berbagai bentuk Assessment

Kita tahu bahwa ujian tipe pilihan ganda dan jawaban singkat bukanlah satu-satunya cara, serta bukanlah cara terbaik, untuk menentukan pemahaman dan keterampilan siswa. Banyak negara bagian (di Amerka Serikat) yang menerapkan performance-based assessments (seperti projek, dll) di dalam ujian-ujian terstandar mereka atau menambahkan cara assessment lainnya seperti menggunakan portfolio siswa dan presentasi sebagai cara lain untuk mengukur pemahaman siswa. 

Berbagai bentuk assessment ini menuntut siswa untuk mengaplikasikan apa yang mereka pelajari di dalam dunia nyata (real world tasks). Assessment-assessment ini termasuk projek (standards-based projects) dan tugas-tugas yang menuntut siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan mereka, misalnya dengan mendesain sebuah gedung, menginvestigasi kualitas air di sebuah kolam; menggunakan rubrik yang didefinisikan dengan jelas (memiliki kriteria yang jelas) untuk bisa memfasilitasi pengevaluasian siswa secara adil dan konsisten; dan memberikan kesempatan bagi siswa untuk belajar dari umpan balik (feed back) yang diberikan oleh guru-guru, teman-temannya, maupun para ahli dari luar sekolah. 

Dengan assessment summatif dan formatif ini maka memungkinkan siswa untuk memperoleh umpan balik segera. Selain itu, guru dimungkinkan untuk memberikan intervensi, mengganti strategi ketika terlihat bahwa sebuah model pembelajaran tidak berhasil atau untuk menawarkan tantangan-tantangan baru untuk siswa yang sudah menguasai sebuah konsep atau keterampilan.

SEPOTONG CERPEN UNTUK ‘GURUKU’
Oleh : Djenar Maehasa Ayu
Sumber: Readers Digest Indonesia April 2010, h.25 – 28


Gara-gara sebuah cerpen yang mampu menggetarkan hati, saya kembali menyiapkan alat tulis dan menulis lagi.

Secara tak sengaja saya menemukan sebuah cerpen di surat kabar ternama negeri ini. ‘Sepotong Senja Buat Pacarku’, (1993) begitu judul cerpen itu. Ah, begitu absurd judulnya! Apa sih maksudnya dengan senja yang hanya sepotong? Berawal dari judul yang ajaib itu, saya langsung terprovokasi untuk terus membaca kelanjutan isi cerpen tersebut.

Penulis cerpen tersebut menurut saya memang benar-benar gila! Dia berhasil membuat saya – manusia yang malas membaca – untuk terus mengikuti kisah mengenai seorang pencuri senja sampai habis tuntas. Seno Gumira Ajidarma, begitu nama penulis cerpen itu. Nama itu terekam kuat di kepala.

Saat membaca cerpen itu saya masih berusia 19 dan sedang ditinggal oleh suami saya (sekarang mantan suami), yang tengah menyelesaikan kuliah di luar negeri. Mungkin karena ada rasa cinta dan rindu yang mendalam saat membacanya, saya melihat bahwa tak ada ungkapan cinta yang lebih sempurna, dari sebuah cerpen yang ceritakan begitu cintanya seorang lelaki pada kekasihnya sampai-sampai ia memotong senja sebesar kartu pos, yang tentu saja membuat geger satu kota.

Saya merasa harus berbagi cerpen itu pada pasangan saya. Dengan keinginan menggebu, saya menuliskan ulang cerpen. Yah, saya benar-benar menyalin cerpen itu dengan tulisan tangn dan mengirimkannya lewat pos padanya. Saya ingin agar dia tahu perasaan saya kepadanya sama seperti isi cerpen itu. Sayangnya, walau dia mengagumi usaha saya menulis ulang isi cerpen itu, dia hanya bisa bertanya ‘huh? Apa sih maksudnya cerita ini?’ Hahaha… saya jadi kesal sendiri.

Tapi ada hal baik yan dihasilkan dari tindakan saya menulis ulang cerpen itu. Saya tiba-tiba merasakan keinginan yang kuat untuk kembali menulis. Sebuah kegiatan yang dulu saya rajin lakukan saat Sekolah Dasar. KEtika menulis ulang kata-kata imajinatif Seno, saya mengenang kegemaran saya terhadap cerita-cerita Hans Christian Andersen. Saat pena saya bergerak menuliskan kembali kata-kata Seno, saya kembali merasakan nikmatnya menulis – sebuah kegiatan yang saya tinggalkan saat SMP dan SMA karena terlalu sibuk berpacaran.

Saya langsung merengek minta dibelikan mesin tik kepada suami saya. Dia hanya tertawa dan berkata, ‘Ih norak banget sih! Sekarang kan jamannya computer!’ Akhirnya saya dibelikan seperangkat computer – sebuah alat yang sering saya abused  karena saya menulis tanpa henti seperti orang kerasukan. Cerpen milik Seno itu menjadi sebuah suntikan penyemangat yang ampuh.

Hasilnya? Sebuah cerita pendek berjudul ‘Mati’ menjadi karya saya yang pertama. Cerpen itu – besama empat lainnya – saya kirim pada Seno. Karena tak tahu alamat Seno, saya mengirimkannya kepada majalah tempat Seno bekerja, dengan harapan kelima karya itu ia baca dan diberi komentar, oleh karena itu saya juga mengirim data lengkap termasuk telepon dan alamat rumah.

Beberapa hari setelah itu saya menerima panggilan telepon. Coba tebak siapa yang menelepon? Ya, orang yang menelepon bernama lengkap Seno Gumira Ajidarma. Dia tertarik dengan karya saya! Bayangkan bagaimana perasaan saya saat itu? Seorang penulis yang saya kagumi tulisannya, menelepon untuk membahas tulisan saya! Wah!    

Selama beberapa jam kami berbicara. Mendiskusikan cerpen-cerpen yang saya kirim kepadanya. Saya merasa kaki tak menapak bumi. Saya menikmati sekali obrolan itu. Tak rela rasanya saya meletakkan gagang telepon untuk melakukan kegiatan lain, selain bicara dan berdiskusi dengan Seno. Sampai saya terpaksa menahan keinginan untuk ke kamar kecil agar tak perlu memutuskan obrolan kamu. Nanti kalau Seno tidak menelopn lagi, bagaimana?  Begitu piker saya. Walhasil, saya terpaksa menarik keranjang sampah yang ada di sebelah meja telepon dan buang air kecil di sana karena benar-benar sudah kebelet saat di tengah sebuah obrolan seru. 

Obrolan dengan Seno terus berlanjut beberapa kali setelah telepon pertama itu. Pada percakapan kami selanjutnya, kami membicarakan mengenai cerpen Sepotong Senja Buat Pacarku yang menjadi inspirasi saya untuk menulis kembali. Saat mendapati saya banyak bertanya mengenai tulisannya, Seno menanyakan apakah saya sudah membaca bukunya. “Wah, emang udah punya buku?” itu reaksi saya yang polos.

“Waduh, kamu ini payah banget!” ujar Seno. Setelah mendengar pengakuan saya yang tak suka membaca, tiba-tiba Seno menawarkan sesuatu yang tak mungkin saya tolak. “Kamu mau ikut kelas menulis kreatif saya di IKJ, ngak?” pertanyaan itu meluncur dengan santai. Saya mengiyakan tanpa piker panjang,

Hari pertama masuk kelas di sebuah institusi kesenian membuat saya merasa canggung. Saat absensi kelas diedarkan, saya tak tahu harus melakukan apa dengan lembaran itu. Tapi melihat yang lain mengisi namanya, yah saya ikut melakukannya. Kecanggungan tak berhenti di situ saja. Saat untuk pertama kali melihat ‘guru’ saya masuk ke ruangan kelas, kejutan-kejutan lain menanti saya.

“Nulis!” hanya itu yang diucapkan Seno pada kami yang berada di kelas itu sambil memasang music klasik yang memenuhi satu ruangan. Apa?! Nulis apa? Hampir semua anak di kelas – termasuk saya – bingung sambil mencoba mencerna maksud Seno. Setelah satu jam berlalu, kami diminta membuat esai berdasarkan buku berjudul Esai mengenai Esai di rumah untuk diserahkan pada pertemuan selanjutnya. 

Pertemuan kedua dengan kelas Seno masih memberikan kejutan. Saat berada di depan kelas, Seno membaca hasil tulisan kami yang dibuat minggu lalu. Dia pilih tulisan yang menurutnya paling baik dan dibacakan di depan kelas dan diperlihatkan mengapa tulisan tersebut dianggapnya baik. Melihat itu, saya punya obsesi membuat Seno membacakan tulisan saya di depan kelas itu. Kesempatan itu muncul saat Seno – seperti minggu sebelumnya berujar, “Nulis!” seraya menyalakan musik Rock yang kencang di kelas.Karena pengalaman minggu sebelumnya, saya sudah siap menulis. Apalagi ditambah dengan keinginan kuat agar tulisan saya dibaca di depan kelas.

Minggu ketiga, keadaannya masih sama. Yang beda adalah hari itu, tulisan saya yang dibacakan di kelas. “Ketika kalian sudah siap menulis hasilnya akan lebih baik disbanding dengan hari pertama saat kalian tak tahu apa-apa dan tidak siap,” begitu ujar Seno yang menunjukkan kepada kami semua bahwa saat siap menulis, tak peduli music apa yang sedang diputar, pasti semuanya tak akan menganggu konsentrasi menulis. Mendengar itu saya berjanji untuk selalu siap untuk menulis dan menulis saat sudah siap menulis, dan hal itu saya ingin tunjukkan di kelas menulis ini dengan cara berusaha agar tulisan saya dibacakan di depan kelas. Ada keinginan kuat dalam diri saya untuk membuat Seno kagum akan karya saya, dan hal itu selalu terjadi di hari-hari selanjutnya, karea tulisan-tulisan saya selalu dibacakan di kelas.

Setelah satu semester mengikuti kelas penulisan kreatif yang luar biasa itu, saya akhirnya bertemu secara langsung dengan Seno. Pertemuan dengan ‘guru’ yang biasanya hanya melalui telepon dan di kelas bersama mahasiswa lain, kini bisa dilakukan secara langsung.

Hari pertama kami bertemu itu, Seno langsung mengajak saya ke Bengkel Buku di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Berbekal dua plastic keranjang sampah besar, Seno mengambil berbagai buku di toko itu sampai kedua plastik itu penuh sesak. ‘Baca ini semua dan kita akan diskusikan semua buku yang ada itu satu per satu,” ujar Seno sambil menyodorkan kedua plastik itu.

Ternyata pelajaran belum selesai. Seno memaksa saya membaca buku-buku yang baik untuk modal menjadi penulis yang baik. Diskusi-diskusi bersamanya menambah wawasan saya. Dia adalah salah satu Orang dalam hidup saya yang saya anggap sebagai ‘guru’ dalam menulis.

Walau lelah dan sulit, selain mendapatkan berbagai ilmu lewat buku dan berdiskusi dengan Seno, semua hal  ini ternyata punya nilai plus lain. Saat teman saya, Richard Oh, datang ke rumah saya dan melihat rak buku saya, dia sampai terkejut. “Wah, gila!Buku-buku ‘lo bagus-bagus banget!” Saya hanya tersenyum. Wah, dia tidak tahu bahwa ‘guruku’, Seno Gumira Ajidarma, yang memiliki sebagian besar buku itu. Tentu saja keren!

---

Djenar telah menulis buku Mereka Bilang, Saya Monyet (2003), Jangan Main-main (dengan kelaminmu) (2005), Nayla (2005), Cerita Pendek Tentang  Cerita Cinta Pendek (2006). Cerpennya berjudul Waktu Nyala adalah Cerpen Terbaik Kompas 2003 dan cerpen Menyusu Ayah dinobatkan menjadi Cerpen Terbaik 2003 versi Jurnal perempuan. Kini Djenar tengah menyiapkan film ketiganya, setelah menyutradarai film Mereka Bilang Saya Monyet  (2007) dan Saia (2008)
"Engineers not only have a lot of knowledge about the materials they are working with, but they also have discretion--how to apply those materials to this particular project."

Source : Right Idea, Wrong Metaphor http://worldowiki.wikispaces.com/Instructional+engineer